Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Balita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Balita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2014

Mengatasi Si Kecil Susah BAB

InfoSehat - Susah Buang Air Besar pada anak ditandai dengan adanya rasa sakit ketika sedang BAB, tinja tidak keluar meskipun telah mengedan lama, frekuensi BAB kurang dari 3 kali selama seminggu dan tinja keras. Hal ini tentunya membuat sang bayi tidak merasa nyaman, sehingga membuatnya tidak mau BAB. Nah, bagaimana cara mengatasinya?

- Bila Anda memberikan susu formula kepada bayi Anda, perhatikan peraturan takaran pengencerannya sehingga didapatkan konsistensi yang tepat dan tidak terlalu kental.

- Mintalah rekomendasi susu formula yang baik dari dokter atau ganti merk susu dengan merk lain yang lebih cocok untuk bayi Anda apabila diperlukan.

- Oleskan minyak bayi di daerah sekitar anus bayi.

- Berikan pijatan lembut disekitar perut bayi dari pusar ke arah luar dengan gerakan melingkar searah jarum jam. Anda bisa menggunakan krim atau minyak pijat bayi yang dapat memudahkan tangan Anda melakukan pijatan dengan lembut.

- Baringkan bayi Anda dalam keadaan telentang dan lakukan gerakan kakinya dengan gerakan mengayuh sepeda di udara. Hal ini dapat membuat otot-otot perut bayi bergerak dan memberikan tekanan lembut di usus besar sehingga memudahkan bayi untuk BAB.

- Usahakan untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buahnya setiap hari, bisa diberikan dalam bentuk puree atau jus. Buah yang baik untuk pencernaan si kecil adalah pepaya matang dan agar-agar yang dapat membantu melunakkan tinja sehingga memperlancar BAB. Buah yang sebaiknya dihindari untuk sementara waktu adalah pisang karena dapat memperkeras tinja.

Sumber : rumahkeluarga-indonesia.com



Kenali Kenapa Si Kecil Susah Buang Air Besar

InfoSehat - Susah Buang Air Besar pada bayi memang sangat sering terjadi khususnya pada bayi yang sedang mendapatkan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu), ini di karenakan terjadinya perubahan jenis asupan makanan dari ASI ke MPASI. Ini juga di karena kan karena rendahnya kandungan air dan serat yang di berikan pada bayi.

Selain itu susah buang air besar juga di sebabkan adanya riwayat keluarga , adanya ketidak seimbangan mikrofla usus / gangguan pada motilitas saluran cerna bawah.
Susah Buang Air Besar pada Anak di tandai dengan adanya rasa sakit ketika sedang BAB, tinja tidak keluar meskipun telah mengedan lama, frekuensi BAB kurang dari 3 kali selama seminggu dan tinja keras. Hal ini tentunya membuat sang bayi tidak merasa nyaman, sehingga membuatnya tidak mau BAB.
Dan sering kali membuat orang tua khawatir karena si kecil sering menangis karena adanya rasa nyeri, lecet pada anus dan tidak nyaman ketika sedang Buang Air Besar.
Susah Buang Air Besar pada bayi dikatakan jika bayi tidak BAB hingga 2 minggu atau lebih, sedangkan normal untuk bayi yang baru lahir sebanyak 4 kali sehari sampai berusia 7 hari. Untuk Anak 2 tahun , normal nya Buang Air Besar 1-2 kali tiap harinya. Anak usia 4 tahun sudah sama pola BAB nya seperti orang dewasa yaitu 1 kali sehari.
Adapun Gejala Susah Buang Air Besar yang harus orang tua ketahui adalah sebagai berikut :
  • Bayi akan menangis / rewel karena kesakitan ketika BAB
  • Nyeri di sekitar anus
  • Perut kembung
  • Bayi Muntah
  • Berat badan tidak naik
  • Bila di raba perutnya terasa keras
  • Tinja Keras dan terkadang di sertai bercak darah , ini di sebabkan karena adanya luka pada anus nya dan terjadi gesekan tinja yang keras pada permukaan anus yang luka.
Penyebab Susah Air Besar pada bayi
  • Faktor Susu
  • Sistem Pencernaan yang belum sempurna
  • Kekurangan cairan / dehidrasi
  • Luka pada anus
  • Hirschsprung / kelainan pada usus besar bawah
  • Mengalami penyakit tertentu

Sumber : rumahkeluarga-indonesia.com

Senin, 10 Desember 2012

Hindari Kesalahan Mengompres Saat Demam

InfoSehat - Demam merupakan bagian dari respons tubuh dalam mengatasi penyakit. Pada saat demam sebenarnya badan sedang berusaha mengatasi penyakit. Beberapa penyakit yang diawali dengan gejala demam seperti demam berdarah, campak, rubela, batuk pilek dalam berbagai tingkat keganasan.

Biasanya kompres menjadi pertolongan pertama saat demam melanda. Kompres dipercaya dapat mengusir demam. Namun jangan sampai niat untuk menurunkan suhu tubuh dengan mengonpres justru malah akan membuat suhu tubuh makin tinggi akibat salah mengompres.
Dr. Herbowo Soetomenggolo Sp.A menjelaskan bahwa turun atau tidaknya demam dipengaruhi banyak hal terutama penyebab demam itu sendiri. “Tetapi kompres hangat minimal dapat membuat anak lebih nyaman dan hampir 90 persen berhasil menurunkan demam,” Herbowo menerangkan. Begitu mujarabnya kompres, sehingga mayoritas ibu memilih teknik ini saat buah hati demam.
Akan tetapi sebagian besar ibu salah kaprah dalam mengompres. Kompres yang benar adalah kompres hangat atau air suam kuku. “Kompres dengan air dingin tidak digunakan lagi karena hanya menurunkan demam sesaat dan justru akan menimbulkan demam lebih tinggi setelahnya,” Herbowo mengingatkan.
Salah kaprah berikutnya yang sering ibu lakukan, mengompres di jidat. Ini salah. Herbowo mengingatkan prinsip kompres hangat, membuat seluruh reseptor demam di tubuh menyadari anak sedang mengalami lonjakan suhu. Tubuh merespons demam dengan mengeluarkan zat-zat yang bisa menurunkan demam. Reseptor demam kita ada di seluruh permukaan kulit.
“Jadi bukan di kening saja. Dengan menghangatkan seluruh permukaan kulit, terjadi pelebaran pembuluh darah di seluruh kulit sehingga aliran darah bertambah dan panas tubuh makin cepat dibuang ke udara,” urainya. Kompres mujarab jika tekniknya benar. Caranya?
Teknik mengompres yang benar dapat adalah dengan menyeka seluruh tubuh anak atau dengan cara berendam di air hangat atau air suam kuku. Mungkin Anda pernah mendengar pertolongan pertama dengan kompres alkohol. Sebaiknya metode ini Anda abaikan. Kompres alkohol sudah tidak digunakan lagi karena dapat menimbulkan efek toksik (keracunan-red) pada anak.
Demam bukan sesuatu yang berbahaya. Yang patut Anda antisipasi justru kondisi sesudah demam berlangsung. Segala tindakan dalam menangani demam berpusat bukan pada seberapa banyak demam dapat ditekan, tetapi bagaimana agar pasien nyaman meskipun sempat kejang pada 24 jam pertama.
“Penelitian menunjukkan, kejang demam tetap ada meski demam diturunkan. Kejang demam terjadi pada awal perubahan suhu yang mendadak. Hanya terjadi pada 2 sampai 4 persen populasi anak demam alias kasus langka. Kejang tidak menimbulkan kematian, cacat, serta tidak menurunkan tingkat inteligensi,” paparnya panjang.
Mengompres memang sederhana dan sepele. Hanya berbekal air, wadah, dan sehelai kain. Lalu, dipadukan dengan banyak minum air putih. Sesederhana itu. Tapi manfaatnya tak main-main. Jurnal dari Sullivan JE dan Farrar HC bertajuk Fever and Antipyretic Use in Children menyebut, pada saat demam kebutuhan cairan meningkat sampai 1,5 kali dari kebutuhan normal.
Jika kekurangan cairan, demam akan meninggi. Setelah dikompres, perbanyak minum. Fungsinya, menjaga kecukupan cairan dan mencegah timbulnya panas lebih tinggi. Jangan minum minuman yang mengandung kafein (teh, kopi-red) karena akan menyebabkan cairan tertarik keluar melalui kencing sehingga makin kekurangan cairan.
Sebaiknya sediakan termometer untuk mengantisipasi datangnya demam. Jika tubuh anak Anda sudah terlihat lemas segeralah bawa ke rumah sakit. Jangan tunggu sampai suhu badan bertambah tinggi.
“Tidak ada suhu maksimal yang ditentukan. Jika anak Anda tidak mau minum banyak sehingga terlihat lemah atau terdapat tanda-tanda dehidrasi, segeralah bawa ke rumah sakit. Selain itu, jika terdapat tanda gawat lainnya seperti sesak, kejang yang tidak berhubungan langsung dengan demam, jangan ditunda-tunda,” Herbowo mengimbau.
Jika sudah dikompres, biarkan ia beristirahat. Jangan bangunkan anak hanya untuk memandikan atau memberi obat penurun panas. Makin banyak beristirahat, makin cepat sembuh. Hal lain yang patut dicamkan, tidak ada korelasi antara demam dan makanan pantangan.
“Selama demam dan sakit, metabolisme akan terganggu. Sebaiknya mengonsumsi makanan yang lunak sehingga mudah dicerna. Satu lagi, hindari pemakaian baju berlapis dan selimut tebal karena itu malah menyulitkan kulit untuk melakukan pertukaran panas dengan udara,” pungkas Herbowo.
Sumber: tabloidbintang.com

Minggu, 10 Juni 2012

Mencegah Alergi Pada Bayi

InfoSehat - Kadang-kadang, bayi tidak mengalami reaksi alergi hebat yang membahayakan hidupnya, saat pertama kali ia diberi makanan bayi tertentu. Namun, bila timbul bentol-bentol merah dan gatal di seluruh tubuh, mulut, leher dan lidahnya membengkak sehingga sulit bernafas, carilah segera bantuan medis. Jika perlu, berikan pertolongan pertama.
 
Reaksi ini dianggap berkaitan erat dengan makanan yang membuat bayi peka, baik saat dalam kandungan maupun selama di beri ASI. Karena itu, janganlah sekali-sekali memberi bayi atau anak anda makanan yang membahayakan tersebut meskipun hanya untuk dicicipi. Bila kelak anda ingin mengenalkan makanan tersebut, lakukan di bawah pengawasan dokter.

Jika keluarga anda pernah terkena alergi, mungkin anda perlu mengurangi jenis makanan tertentu untuk bayi anda. Hal ini tentu saja dapat menghilangkan banyak nutrisi dari makanannya. Berkonsultasilah dulu dengan dokter anak yang akan memberi nasihat tentang jenis nutrisi yang dibutuhkan bayi anda selama masa penyapihan.

Mencegah Alergi

Langkah-langkah berikut membantu mecegah bayi alergi:
  • - Masa bahaya terhadap kepekaan adalah empat sampai enam bulan pertama, jadi tundalah penyapihan dan teruskan memberi ASI atau susu formula selama masa ini. Bayi anda akan mendapat semua nutrisi yang dibutuhkan dari ASI atau susu formula sampai usianya enam bulan.
  • - Selama memberi ASI anda pun harus berhati-hati terhadap makanan yang berpotensi menimbulkan alergi, untuk menghindarkan bayi dari alergi melalui ASI.
  • - Perkenalkan bayi pada makanan padat satu demi satu. Beri jarak waktu beberapa hari untik setiap jenis makanan baru agar anda dapat mengeceknya bila suatu reaksi alergi.
  • - Jika aleri mengenai keluarga anda, perhatikan saat pengenalan selai kacang dan makanan lain dari kacang.
  • - Hindari bayi dari bahan-bahan yang dapat menimbulkan alergi, seperti asap, rokok, debu ruam, sebuk sari, dan binatang piaraan.

Formula Khusus

Jika bayi anda alergi terhadap susu sapi dan anda tidak dapat memberinya ASI, coba gunakan susu bayi dari kacang kedelai. Susu ini juga diberikan pada bayi yang tidak tahan terhadap laktosa. Sayangnya, kedelai sendiri jadi pencetus alergi. Selama masa penyapihan, susu kacang kedelai dapat diberikan sebagai minuman dalam cangkir.
  • - Susu formula dari kacang kedelai mengandung gula bukan dari susu. Waspadalah kesehatan gigi bayi dan jangan berikan susu dalam botol setelah usianya satu tahun. Hindari pemberian susu formula diantara waktu makan dan waktu tidur.
  • - Susu kedelai biasanya (bukan susu kedelai bayi), tidak boleh diberikan pada bayi yang sedang disapih karena tidak mengandung cukup kalori, vitamin, dan kalsium
  • - Ada pula susu bayi yang menggunakan protein susu sapi yang telah dimodifikasi secara khusus untuk bayi yang punya kecenderungan alergi.
  • - Susu domba atau kambing terkadang dianggap kurang menimbulkan alergi. Namun belum ada bukti ilmiah tentang hal ini. Dalam keadaan apapun, sebaiknya jangan berikan susu ini pada bayi di bawah usia satu tahun karena susu ini tidak mengandung cukup nutrisi penting seperti Vitamin A, D, asam folat dan zat besi

Mengontrol Berat Badan Bayi

InfoSehat - Penyebab berat badan bayi tidak kunjung datang ada bermacam – macam. Normalnya, berat badan bayi yang baru lahir harus mencapai 2,5 kilogram. Berat ini normal, tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Sebab kalau terlalu kecil dikhawatirkan organ tubuhnya tak dapat tumbuh sempurna sehingga dapat membahayakan sang bayi sendiri. Sebaliknya, terlalu besar juga ditakutkan sulit lahir dan malah harus melahirkan dengan cara operasi. 

 
      Pertambahan berat badan bayi bisa dilihat per triwulan. Pada triwulan pertama, kenaikan berat badan berkisar 150 – 250g/minggu. Triwulan kedua, kenaikannya 5- 600g/bulan. Triwulan ketiga, naik 350 – 450g/bulan dan triwulan keempat sekitar 250 – 350g/bulan. 

      Acuan untuk melihat normal tidaknya berat badan adalah saat usianya mencapai enam bulan dan satu tahun. Di usia 6 bulan, berat badan bayi harus mencapai dua kali lipat berat lahir dan menjadi tiga kali lipatnya pada usia 1 tahun. Kurang dari ini, berat badannya bisa disebut rendah atau termasuk bayi kurus. 

      Bayi kurus adalah yang saat lahir berat badannya rendah atau di bawah 2,5 kg. Penyebabnya dipengaruhi saat masih berada dalam kandungan, jadi kesehatan janin sangat menentukan karena di situlah pembentukan dan pertumbuhan organ tubuh dimulai. 

      Selain itu, bayi kurus juga bisa mengindikasikan kekurangan gizi. Ini umumnya karena kebiasaan di keluarga di mana kadang ibu tidak cermat memberi nutrisi yang tepat untuk bayi. Padahal, bayi perlu asupan nutrisi yang seimbang. Bisa juga karena si bayi bosan dengan makanan yang itu-itu saja dan akhirnya tidak mau makan. Di sisi lain, kondisi psikis bayi menentukan pula keinginannya untuk makan. Kalau dia merasa tertekan karena sering dipaksa, bisa saja nafsu makannya berkurang. 

      Konsultasi ke dokter merupakan jalan lain yang bisa dilakukan. Karena untuk mengembalikan berat badan bayi menjadi normal, kita harus melihat apa yang menjadi sebabnya. Bila karena penyakit, maka harus disembuhkan dan sambil menyembuhkan penyakitnya, kita pun harus melakukan konsultasi gizi untuk mengetahui gizi yang tepat bagi bayi. 

      Jika memang penyebabnya adalah penyakit, tidak ada cara lain bahwa penyakit tersebut harus disembuhkan secara total. Pada saat yang sama pula, bayi harus diberi nutrisi yang cukup agar ia tidak jadi kurus. Sebab jika bayi terkena infeksi dan dibiarkan tanpa ada tindakan tepat hingga akhirnya menimbulkan masalah kekurangan gizi, akan kesulitan dalam meningkatkan berat badannya. Penanganannya pun akan menjadi lebih kompleks. 

      Ciri-ciri bayi kekurangan gizi atau malnutrisi bisa dilihat dari fisiknya. Bila parah hanya tinggal kulit dan tulang saja. Pemberian gizinya pun tidak hanya satu segi saja tetapi harus seimbang antara pemberian protein, karbohidrat, lemak, kalori dan vitamin. Sumbernya pun tidak harus yang mahal. Seperti protein, tidak harus dari hewani saja, dari nabati pun bisa, misalnya anak diberi makan tahu dan tempe. 

Sumber : melindahospital.com

Mencegah Gumoh Pada Bayi

InfoSehat - Usai diberikan ASI, tidak sedikit terjadi gumoh pada bayi. Hal tersebut memang kerap terjadi pada bayi dan wajar. Namun tidak sedikit ibu yang panik saat terjadi gumoh pada bayi. Jangan khawatir, Anda bisa mencegah gumoh dengan beberapa tips berikut ini. 

 
    Meski sering membuat panik ibu, sebenarnya gumoh jarang sekali terjadi sampai serius. Jika bayi Anda tetap terlihat nyaman dan tidak terjadi masalah dengan berat badannya, maka gumoh pada bayi Anda bisa dikatakan gumoh biasa dan tidak perlu dikhawatirkan. 

    Gumoh pada bayi biasanya terjadi pada tiga bulan pertama bayi setelah dilahirkan. Saat usianya mencapai 12 bulan, biasanya gumoh sudah berhenti. Jika gumoh sering terjadi, Anda pun patut mewaspadai. Karena kemungkinan ada permasalah pada lambung bayi. 

    Saat Anda memberi si kecil makan, sebaiknya dalam posisi duduk tegak. Hal ini untuk menghindari terjadinya muntah. Sebaiknya saat makan, dilakukan dengan tenang dan hindari memberi makan sambil melakukan permainan yang aktif. 

    Lakukan pemberian ASI atau susu secara bertahap dan dengan jumlah yang cukup. Jumlah yang terlalu banyak, bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya gumoh pada bayi. Aturlah sedemikian rupa mengenai jadwal menyusui bayi Anda. 

    Usahakan membuat bayi bersendawa di tengah menyusui dan setelah dia selesai. Anda tidak perlu khawatir jika bayi tidak bersendawa. Mungkin memang tidak ada udara di perutnya. Agar bersendawa, Anda bisa gosok atau tepuk punggungnya dengan lembut untuk mendorong agar udaranya naik. 

    Hal lain yang perlu Anda lakukan adalah memeriksa dot bayi. Saat Anda memilih dot, pilihan ukuran yang sesuai dengan usia bayi Anda. Dot yang terlalu besar, membuat susu mengalir cepat dan jika dot kecil, bisa membuat bayi Anda frustasi.

    Jangan terlalu panik jika terjadi gumoh pada bayi Anda. Lakukan dengan tenang langkah-langkah untuk mencegah gumoh pada bayi Anda. Jika gumoh sudah sangat sering terjadi dan mengganggu bayi, Anda sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak. 

Sumber  : melindahospital.com

Rabu, 06 Juni 2012

Asam Lemak dalam Susu Formula Kurang Bermanfaat Bagi Otak Bayi

InfoSehat - Saat ini susu formula untuk bayi dilengkapi dengan berbagai macam asam lemak. Tapi peneliti mengungkapkan asam lemak ini tidak memberikan manfaat yang signifikan untuk meningkatkan kemampuan otak bayi.
Hasil review dari beberapa penelitian menunjukkan susu formula untuk bayi yang disuplementasi dengan asam lemak yang dibuat meniru ASI ini tidak meningkatkan kemampuan otak bayi secara signifikan dibandingkan dengan susu formula tanpa asam lemak ekstra.

Peneliti mengungkapkan hasil ini tidak selalu berarti asam lemak dalam formula tidak bermanfaat. Tapi asam lemak ini tidak memberikan keunggulan terhadap kemampuan bahasa dan cara berpikir anak dibanding dengan anak yang menyusui.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan bayi yang dibesarkan dengan ASI cenderung memiliki nilai lebih tinggi pada tes perkembangan mental dibanding dengan anak yang diberi susu formula.

Susu formula bayi biasanya berasal dari susu sapi yang diperkaya dengan asam lemak dan nutrisi lainnya. Susu formula dilengkapi dengan 2 asam lemak yaitu docosahexaenoic acid (DHA) dan arachidonic acid (AA).

Studi yang dipimpin oleh Dr Ahmad Qawasmi dari Yale University di New Haven, Connecticut dan Al-Quds University di Jerusalem berusaha menganalisis hal ini dengan menggunakan data 12 uji coba yang melibatkan 1.800 bayi pada tahun 1998-2005.

Bayi-bayi ini diberi susu formula sejak usia 1 bulan dan ketika berusia 1 tahun bayi ini menjalani ujian untuk mengukur keterampilan motorik, bahasa dan perkembangan mental.

Didapatkan hanya 2 studi yang menunjukkan susu formula dengan asam lemak lebih ini memiliki hasil tes yang lebih baik, sedangkan 9 studi sisanya menemukan tidak ada manfaat kognitif pada bayi yang mendapatkan susu dengan tambahan asam lemak.

Seperti dilansir CBS News, Kamis (31/5/2012), peneliti mengungkapkan secara keseluruhan bahwa asam lemak berlebih tidak memberikan keuntungan yang signifikan terhadap kemampuan otak, meski ada kemungkinan penambahan asam lemak ini menguntungkan faktor lain seperti dorongan penglihatan atau fungsi kekebalan tubuh.

Untuk itu American Academy of Pediatrics merekomendasikan perempuan menyusui secara eksklusif selama 6 bulan dan diikuti dengan pemberian makanan pendamping ASI untuk memperkenalkan makanan padat.

Sumber : detikhealth.com

5 Problem Paling Umum Saat Menyusui

InfoSehat - ASI adalah sumber makanan utama dan terbaik untuk bayi. Hampir semua ibu ingin memberikan ASI kepada buah hati mereka, namun sayangnya hal ini seringkali tidak selalu berjalan mulus.

Banyak hal yang menyebabkan gagalnya pemberian ASI.
Meski begitu, sebagian besar tantangan ini umumnya bisa diatasi dengan bantuan konsultan laktasi. Untuk mengetahui lebih lanjut apa saja tantangan yang umum dijumpai saat memberikan ASI, berikut adalah ulasannya seperti yang dipaparkan dalam laman healthychildren.org :

1. Rasa yang berubah


Satu hal yang perlu dipertimbangkan ketika bayi Anda tak mau lagi menyusu adalah apakah rasa ASI Anda telah berubah. Rasa ASI dapat berubah karena beberapa alasan, misalnya mengonsumsi  makanan yang berbeda, pengaruh obat, olahraga berat yang dapat menyebabkan penumpukan sementara asam laktat, infeksi payudara seperti mastitis, perubahan rasa kulit yang disebabkan oleh penggunaan lotion, krim atau minyak pada payudara.

Menghindari faktor pemicu di atas mungkin dapat mendorong bayi untuk menyusui pada tingkat yang normal. Jika Anda mengalami mastitis ( (infeksi pada jaringan payudara), segera konsultasikan ke dokter. Setelah infeksi diobati, rasa ASI anda akan kembali normal.

Jika bayi Anda lebih cepat berhenti menyusu, cobalah memijat payudara Anda dan memompa sedikit susu sebelum Anda mulai menyusui. Dengan cara ini, ASI Anda akan mengalir lebih cepat dan bayi Anda akan merasa lebih puas.

2. Stres


Jika Anda tidak yakin bahwa rasa ASI yang menyebabkan masalah, pertimbangkanlah apakah Anda sedang mengalami ketegangan atau stres. Ketidaknyamanan emosional tersebut dapat dikomunikasikan kepada bayi Anda untuk mengurangi tingkat stres. Seorang ibu memang tidak bisa selalu bebas dari stres, tetapi untuk saat-saat tertentu (sebelum menyusui), lakukanlah kegiatan yang menyenangkan yang bisa membuat pikiran Anda rileks. Mengambil waktu untuk santai sejenak tidak hanya membantu bayi Anda mendapatkan lebih banyak ASI tetapi juga menurunkan tingkat stres pada diri Anda sendiri.

3. Penyakit


Adanya penyakit tertentu yang dialami bayi mungkin akan membuatnya lebih sulit untuk menyusui. Menurunnya minat makan yang disertai kelesuan, muntah demam, atau diare, batuk, atau kesulitan bernapas mungkin mengindikasikan suatu penyakit tertentu. Konsultasikan kepada dokter anak atau dokter keluarga jika bayi Anda menolak makan.

Penyakit pada bayi dapat mempengaruhi pola makan bayi sehingga menurunkan jumlah ASI yang diterimanya. Jika bayi Anda mengalami pilek dan menyebabkan hidung tersumbat, mungkin akan sulit baginya untuk bernapas saat makan. Membersihkan saluran hidung bayi dengan semprotan sebelum makan dapat membantu mengatasi sumbatan pada hidung untuk sementara. Masalah lain seperti ingin tumbuh gigi juga dapat menyebabkan sakit gusi saat menyusui.

4. Gumoh


Gumoh adalah kondisi yang seringkali menimpa hampir setiap bayi. Namun sebenarnya kondisi ini tidak perlu terlalu dikhwatirkan. Selama bayi Anda tampak nyaman dan tidak mengalami masalah berat badan, hal itu tampaknya bukan menjadi masalah serius. Tetapi bila gumoh terlalu sering dialami oleh bayi, memang harus diwaspadai. Bisa jadi ini adalah gejala gastroesophageal reflux disease (GERD), sehingga perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Gumoh sebetulnya dapat diminimalkan dengan membuat suasana menyusui tenang dan santai. Hindari interupsi, suara yang mengagetkan bayi, cahaya terang, dan gangguan lainnya. Cobalah untuk menggendong bayi Anda lebih tegak selama dan setelah menyusui. Jangan mengajak bayi Anda bermain segera setelah ia selesai menyusu.

Jika bayi Anda muntah beberapa kali dan melihat darah atau warna hijau gelap ketika ia muntah, hubungi dokter anak segera. Biasanya dokter akan memantau berat badannya dan memeriksa tanda-tanda penyakit yang lebih serius.

5. Dehidrasi

Cara terbaik untuk memastikan bayi Anda mendapatkan cukup ASI adalah untuk memantau kondisi fisiknya, berat badan, dan isi popoknya. Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter anak jika Anda melihat anak Anda tidak menunjukkan minat makanan, mulut atau mata kering, atau memproduksi popok basah lebih sedikit dari biasanya. Ini mungkin tanda-tanda dehidrasi. Dehidrasi berat umumnya jarang terjadi pada bayi yang cukup mendapat ASI. Dehidrasi pada bayi bisa sangat berbahaya atau bahkan mengancam jiwa dan yang paling mungkin terjadi ketika bayi menolak untuk makan, sering muntah atau diare.

Sumber : kompas.com

Kamis, 31 Mei 2012

Asam Lemak dalam Susu Formula Kurang Bermanfaat Bagi Otak Bayi

InfoSehat - Saat ini susu formula untuk bayi dilengkapi dengan berbagai macam asam lemak. Tapi peneliti mengungkapkan asam lemak ini tidak memberikan manfaat yang signifikan untuk meningkatkan kemampuan otak bayi.

Hasil review dari beberapa penelitian menunjukkan susu formula untuk bayi yang disuplementasi dengan asam lemak yang dibuat meniru ASI ini tidak meningkatkan kemampuan otak bayi secara signifikan dibandingkan dengan susu formula tanpa asam lemak ekstra.

Peneliti mengungkapkan hasil ini tidak selalu berarti asam lemak dalam formula tidak bermanfaat. Tapi asam lemak ini tidak memberikan keunggulan terhadap kemampuan bahasa dan cara berpikir anak dibanding dengan anak yang menyusui.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics menunjukkan bayi yang dibesarkan dengan ASI cenderung memiliki nilai lebih tinggi pada tes perkembangan mental dibanding dengan anak yang diberi susu formula.

Susu formula bayi biasanya berasal dari susu sapi yang diperkaya dengan asam lemak dan nutrisi lainnya. Susu formula dilengkapi dengan 2 asam lemak yaitu docosahexaenoic acid (DHA) dan arachidonic acid (AA).

Studi yang dipimpin oleh Dr Ahmad Qawasmi dari Yale University di New Haven, Connecticut dan Al-Quds University di Jerusalem berusaha menganalisis hal ini dengan menggunakan data 12 uji coba yang melibatkan 1.800 bayi pada tahun 1998-2005.

Bayi-bayi ini diberi susu formula sejak usia 1 bulan dan ketika berusia 1 tahun bayi ini menjalani ujian untuk mengukur keterampilan motorik, bahasa dan perkembangan mental.

Didapatkan hanya 2 studi yang menunjukkan susu formula dengan asam lemak lebih ini memiliki hasil tes yang lebih baik, sedangkan 9 studi sisanya menemukan tidak ada manfaat kognitif pada bayi yang mendapatkan susu dengan tambahan asam lemak.

Seperti dilansir CBS News, Kamis (31/5/2012), peneliti mengungkapkan secara keseluruhan bahwa asam lemak berlebih tidak memberikan keuntungan yang signifikan terhadap kemampuan otak, meski ada kemungkinan penambahan asam lemak ini menguntungkan faktor lain seperti dorongan penglihatan atau fungsi kekebalan tubuh.

Untuk itu American Academy of Pediatrics merekomendasikan perempuan menyusui secara eksklusif selama 6 bulan dan diikuti dengan pemberian makanan pendamping ASI untuk memperkenalkan makanan padat.

Sumber : detikHealth

Senin, 09 April 2012

Mencegah Payudara Bengkak Saat Menyusui

InfoSehat - Menjadi suatu hal yang biasa bila payudara seorang ibu menjadi lebih besar dan berat ketika dalam masa menyusui, karena produksi ASI umumnya akan cenderung meningkat. Tapi permasalahannya, terkadang kepenuhan ini dapat berubah menjadi pembengkakan dan terasa sangat keras dan menyakitkan.

Pada kondisi ini, pembengkakan payudara biasanya disertai pula dengan demam ringan dan bahkan infeksi. Pembengkakan umumnya terjadi selama hari ketiga sampai kelima setelah melahirkan, tetapi bisa juga terjadi setiap saat.

Oleh karena itu, penting untuk mencoba mencegahnya sebelum hal ini benar-benar terjadi. Berikut adalah beberapa tips sederhana untuk mencegah pembengkakan payudara, seperti dikutip situs womenshealth.gov, salah satu bagian dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat yang memfokuskan pada pelayanan kesehatan perempuan :

1. Sering-seringlah menyusui bayi ASI setelah proses persalinan. Biarkan bayi menyusu selama yang dia suka, sepanjang bayi Anda minum ASI dengan baik dan mengisap secara efektif. Dalam minggu-minggu pertama pasca melahirkan, Anda harus membangunkan bayi Anda untuk memberi makan setelah empat jam sejak awal pemberian makanan terakhir.

2. Bekerjasama atau meminta bantuan konsultan laktasi untuk memperbaiki cara menyusui.

3.  Menyusui lebih sering pada payudara yang terasa sakit untuk mengeluarkan ASI.  Agar payudara tetap bergerak bebas, dan mencegah jangan sampai payudara terlalu penuh.

4. Hindari  penggunaan dot yang terlalu berlebihan, dan gunakanlah botol untuk membantu proses pemberian ASI.

5. Pegang payudara dengan tangan secara lembut dan pompalah sedikit ASI untuk melunakkan bagian payudara, areola (daerah gelap di sekitar puting payudara), dan puting sebelum menyusui.

6. Pijatlah payudara secara lembut.

7. Gunakan kompres air dingin di antara waktu menyusui untuk membantu meringankan rasa sakit.

8. Jika Anda harus bekerja, cobalah untuk memompa ASI pada jadwal yang sama ketika Anda memberikan ASI di rumah, atau Anda dapat memompa setidaknya setiap empat jam.

9. Cukup istirahat, nutrisi yang tepat, dan cukupi kebutuhan cairan.

10. Kenakan pakaian yang nyaman dan gunakan bra yang tidak terlalu ketat.

Sumber : kompas.com

Jumat, 24 Februari 2012

Jangan Beri Gula dan Garam untuk Makanan Anak di Bawah 1 Tahun

Agar anak menyukai semua jenis makanan terutama sayur, maka jangan ajari anak mengenal rasa manis dan asin sejak dini. Sebelum usia 1 tahun, tidak perlu menambahkan gula dan garam pada makanan anak.

"Titik kritis makan anak adalah saat memberikan makan pendamping ASI (MPASI)," jelas DR dr Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, ahli gizi klinik dari Departemen Gizi FKUI-RSCM, dalam acara Media Edukasi 'Kenali Jenis Gula Tambahan, Indeks dan Beban Glikemik Serta Dampaknya pada Anak!' di The Energy Cafe, Jakarta, Kamis (23/2/2012).

Menurut DR Fiastuti, ajari anak makan makanan bervariasi, perkenalkan dengan satu-satu tapi bergantian untuk semua makanan, karena tidak ada satu pun makanan yang kandungan gizinya sempurna.

Pada saat masa kritis itu, sebelum anak berusia 1 tahun juga tidak perlu menambahkan gula dan garam pada makanannya. Memperkenalkan rasa gula dan garam terlalu dini pada anak bisa membuatnya 'craving' (mengidam atau keinginan terus menerus) dengan makanan manis atau asin, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan.

"Biarkan anak merasakan rasa alami dari makanan tanpa gula dan garam. Biarkan dia merasakan rasa buah alami, susu alami atau rasa ayam tanpa garam," jelas DR Fiastuti.

Tidak membiasakan konsumsi gula dan garam sejak dini juga tidak akan membuat anak memilih-milih makan, terutama makanan yang dianggap lebih sehat.

"Kenapa banyak anak yang tidak doyan sayur? Karena orangtuanya sudah mengajarkan makanan yang manis dari kecil, sedangkan sayur itu kan rasanya hambar jadi anak tidak mau. Kalau dia tidak dibiasakan makan manis dari kecil, dia tidak akan memilih-milih makanan," tutup DR Fiastuti.

Sumber : health.detik.com

Selasa, 21 Februari 2012

Bayi Alergi Susu Sapi Jangan Langsung Diberi Susu Kedelai

Air susu ibu (ASI) memang makanan terbaik untuk bayi, tapi beberapa alasan medis dapat menyebabkan seorang ibu tak bisa memberikan ASI. Susu sapi pun sering menjadi pilihan namun seringkali menyebabkan alergi. Jika sudah begitu, jangan buru-buru memberikan susu kedelai untuk bayi.

"Yang terbaik untuk bayi tetaplah ASI, tapi ada alasan medis yang membuat ibu tidak bisa memberikan ASI seperti minum obat jangka panjang seperti obat TBC (tuberkulosis). Nah, karena bayi hanya bisa menghisap dan menelan maka diberilah susu pengganti. Dan semakin proteinnya mendekati dengan protein manusia, dipilihlah susu sapi," jelas DR Dr Luciana B Sutanto, MS, SpGK, Dosen Departemen Ilmu Gizi FKUI-RSCM, dalam acara temu media di Hong Kong Cafe, Jakarta, Selasa (21/2/2012).

Tapi karena protein susu sapi lebih tinggi dibandingkan ASI (protein manusia), maka susu sapi sering menyebabkan alergi pada bayi.

"Kalau bayi di bawah 6 bulan alergi susu sapi, jangan langsung diberi susu kedelai. Susu kedelai hanya boleh diberikan untuk bayi di atas usia 6 bulan, karena proteinnya nabati dan tidak selengkap pada protein hewani. Susu kedelai juga tidak mengandung kolesterol yang dibutuhkan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan organ-organnya. Tapi memang yang ideal tetap ASI," lanjut DR Luciana.

DR Dr Zakiudin Munasir, SpA (K) menyatakan rekomendasi dari berbagai organisasi dunia seperti US NIAID, EAACI, French society of pediatrics, American Academy of Pediatric (AAP) menekankan, bayi yang berisiko tinggi alergi (dengan orangtua atau saudara kandung memiliki alergi) risiko alerginya dapat dicegah dengan susu formula terhidrolisa (proteinnya sudah dipecah) yang sudah terbukti manfaatnya.

Salah satu susu formula terhidrolisa yang telah diteliti manfaatnya adalah susu dengan protein whey yang terhidrolisa secara parsial. Ini berarti susu formula tersebut memiliki protein whey yang dipecah menjadi partikel yang lebih kecil sehingga mengurangi sifat alergenik dari susu sapi.

"Untuk pencegahan bisa mengonsumsi susu sapi yang terhidrolisa sebagian (parsial). Untuk anak yang sudah alergi pilih susu sapi yang terhidrolisa banyak (ekstensif)," tutur DR Dr Zakiudin Munasir, SpA (K), Ketua Divisi Alergi-Imunologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM.

DR Zaki menyatakan susu kedelai hanya sebagai alternatif bila orangtua tidak bisa memberikan susu sapi terhidrolisa ekstensif, karena mungkin harganya lebih mahal dan rasanya tidak enak, tapi hanya boleh diberikan untuk bayi di atas usia 6 bulan dan bukan untuk pencegahan.

Sumber : DetikHealth

Sabtu, 11 Februari 2012

Jangan Abaikan Lingkar Kepala dan Ubun-Ubun Anak

InfoSehat - Orang tua dan dokter sebaiknya tak mengabaikan pertumbuhan lingkar kepala anaknya dan kondisi ubun-ubun anak. Setiap kali melakukan pemeriksaan berat dan tinggi badan bayi atau imunisasi, sebaiknya dokter anak atau praktisi kesehatan lain seperti bidan dan kader posyandu agar mengukur lingkar kepala bayi secara rutin untuk mengetahui pertumbuhan otaknya.


Selain mengukur lingkar kepala, memeriksa ubun-ubun anak sangat perlu dilakukan guna mengetahui perkembangan otak anak. Tumbuh dan berkembang seorang anak sangat penting dan merupakan investasi terbaik bagi masa depannya. Gangguan pertumbuhan khususnya gangguan pertumbuhan ukuran kepala dan kondisi ubun-ubun anak sangat penting dilakukan sejak usia di bawah 3 tahun.

Sebagian dokter dan orang tua kadang kurang memperhatikan ukuran lingkar kepala bayi saat melakukan pemeriksaan rutin di  praktek. Selama ini yang sering menjadi fokus utama adalah pertumbuhan berat badan, tinggi badan, pemberian susu, makan dan kondisi penyakit anak. Pertumbuhan lingkar kepala dan pemantauan ubun-ubun sering diabaikan. Padahal, hal itu sangat penting untuk mendeteksi sejak dini gangguan perkembangan otak dan gangguan lainnya. Bila terlambat dalam mendeteksinya maka daat memperberat kelaianan yang sudah ada. Mengukur lingkar kepala adalah hal yang penting, karena bisa melihat pertumbuhan otaknya setiap bulan. Bila melakukan secara rutin ukuran lingkar kepala maka sekaligus mengevaluasi volume otak. Kalau ukuran lingkar kepala si bayi tak pernah dipantau, maka tak akan pernah tahu apakah ukurannya normal atau tidak.

Meski ukuran kepala tak ada pengaruhnya dengan kecerdasan bayi tetapi ukuran lingkar kepala berkaitan dengan volume otak. Volume normal otak bayi baru lahir adalah 350 gram. Bila diameter kepala bayi sekitar 30 cm, maka volume otaknya bisa kurang dari itu. Tetapi bukan berarti bila volumenya banyak anak jadi cerdas. Begitu juga perbedaan bentuk kepala, tak ada kaitan sama sekali denga kecerdasan dan volume otak.

Selain mengukur lingkar kepala, memeriksa ubun-ubun anak sangat perlu dilakukan guna mengetahui perkembangan otak anak. Ubun-ubun pada bayi menandai perkembangan dan pertumbuhan otak anak berlangsung secara normal atau tidak. Penutupan ubun-ubun yang normal berlangsung pada usia 6 sampai 18 bulan. Bila bayi ubun-ubunnya sudah menutup atau proses menutupnya terlalu cepat dari waktu yang normal, harus dikenali penyebabnya. Beberapa gangguan dengan terlalu cepat menutupnya ubun-ubun besar berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan khususnya otak dan kecerdasan anak. Bayi atau anak dengan gangguan ukuran besar kepala ini kadang disertai dengan ubun-ubunnya telah tertutup semenjak lahir. Kondisi bayi seperti ini, perkembangan otaknya akan terganggu. Bila perkembangan otak tidak optimal biasa perkembangan motorik dan kecerdasannya juga tidak optimal.

Lingkar kepala dan ubun-ubun

Ukuran lingkar kepala berkaitan dengan volume otak. Bila ukuran lingkar kepala si bayi tak pernah dipantau asecara rutin, maka dokter dan orang tua tak akan pernah tahu apakah ukurannya normal atau tidak. Ukuran lingkar kepala bayi dan anak memang berbeda-beda pada setiap individu. Paramater yang sering dipakai oleh seorang klinisi untuk menentukan batas normal ukuran lingkar kepala dengan memakai skala Nellhaus. Ukuran lingkar kepala normal sekitar 30 sampai 37 cm. Pertumbuhan lingkar kepala akan bertambah 2 cm setiap bulan pada usia 0-3 bulan. Pada usia 4-6 bulan akan bertambah 1 cm per bulan, dan pada usia 6-12 bulan pertambahannya 0,5 cm per bulan. Sampai usia 5 tahun biasanya sekitar 50 cm. Usia 5-12 tahun hanya naik sampai 52-53 cm setelah usia 12 tahun akan menetap tidak akan membesar lagi.

Ubun-ubun atau fontanel adalah bagian kecil dari kepala bayi yang lunak. Ubun-ubun muncul karena setelah beberapa bulan dilahirkan, tulang-tulang kepala bayi belum menyambung satu sama lain. Meski begitu, posisinya sudah terbentuk berdampingan dan rapi. Walaupun terlihat sangat rapuh, ubun-ubun sebenarnya cukup kuat karena dilindungi membran, yaitu lapisan tipis jaringan yang menutupi permukaan. Terdapat dua jenis ubun-ubun, yaitu anterior fontanel dan posterior fontanel. Anterior Fontanel merupakan ubun-ubun yang terdapat di puncak kepala bayi. Lebarnya mencapai kurang lebih 5 cm. Bila ubun-ubun besar cekung bisa disebabkan karena kekurangan cairan. Sebaliknya bila menonjol harus dicuriga gangguan dalam susunan saraf otak berupa peningkatan tekanan di dalam kepala.

Dalam keadaan normal ubun-ubun besar (UUB) sekitar 90-95% akan menutup pada usia 19-24 bulan. Jika di bawah usia itu sudah menutup disebut Craniosynostosis. Biasanya gangguan ini disertai dengan ukuran lingkar kepala yang kecil. Sebaliknya bila ubun-ubun terlambat menutup bisa disebabkan karena hidrosefalus, sindroma down, kekurangan hormon tiroid dan berbagi penyakit lainnya

Dampak yang bisa terjadi pada Craniosynostosis adalah sel-sel otak tak bisa berkembang karena tidak ada ruang. Gangguan yang muncul antara lain kelumpuhan otak seperti cerebral palsy . Semakin dini ubun-ubun menutup, semakin berat dampak yang terjadi. Selain apakah penutupan itu diikuti oleh penutupan tulang-tulang ubun-ubun yang lain karena jika semua tulang ubun-ubun itu menutup dampaknya akan lebih berat. Demikian pula jika ubun-ubun itu sudah menutup saat bayi berada dalam kandungan, maka dampaknya akan lebih berat dan penanganannya pun lebih kompleks.

Faktor yang berpengaruh

Proses petumbuhan dan perkembangan susunan saraf pusat dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi dan juga lingkungan yang berupa stimulasi atau rangsangan. Ketidaknormalan ubun-ubun pertumbuhan ukuran lingkar kepala anak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor yang paling sering adalah keturunan. Ukuran lingkar kepala anak tidak jauh berbeda dengan ukuran lingkar kepala dengan salah satu orang tuanya bila mereka dewasa kelak. Faktor lain yang berpengaruh adalah gangguan saat dalam kandungan bisa karena infeksi kehamilan, kelainan kromosom atau kelainan genetik.

Pada beberapa kasus-kasus mikrosefali atau makrosefali dapat juga dianggap normal atau disebut familial. Pada kasus seperti ini biasanya tidak disertai kelainan persarafan dan tumbuh atau berkembangnya anak lainnya. Biasanya orang tua si bayi juga memiliki lingkar kepala yang hampir sama. Bila bayi dengan kelainan makrosefali, ternyata orang tuanya juga makrosefali. Sehingga bila anak ukuran lingkar kepalanya tidak normal, maka sebaiknya diukur juga lingkar kepala orang tuanya.

Mikrosefali dan Makrosefali

Gangguan ukuran kepala dikatakan tidak normal bila besar lukuran lingkar kepala bayi kurang atau lebih dari 2 Standard Deviasi sesuai usia menurut skala Nelhaus. Jika ukuran lingkar kepala bayi lebih kecil dengan perbedaan sebesar 2 standar deviasi dari ukuran normal, maka disebut kelainan mikrosefali. Namun, bila ukuran lingkaran kepala si bayi lebih besar daripada ukuran normalnya, disebut makrosefali.

Mikrosefali atau gangguan pertumbuhan lingkar kepala yang kurang sesuai normal sering disebabkan gangguan saat dalam kandungan bisa karena infeksi kehamilan seperti infeksi TORCH (toksoplasma, rubella, sitomegalo virus, dan herpes), kelainan kromosom atau kelainan genetik. Penyebab lainnya karena gangguan secara keseluruhan, pertumbuhan fisik bayi kecil maka kepalanya juga kecil. Hal ini biasanya disebabkan karena faktor genetik atau asupan gizi ibu ke bayi kurang.

Kelainan mikrosefali bisa mempengaruhi kemampuan otak bayi. Kalau perkembangan otak nggak sempurna, maka kemampuan berpengaruh pada kemampuan intelegensi, kemampuan motorik, kemampuan emosi, sosial, dan sebagainya.

Bila ukuran lingkaran kepala si bayi lebih besar daripada 2 standar ukuran normal dikatakan kelainan makrosefali. Sebenarnya hanya sebagian kecil kasus makrosefali yang termasuk normal. Sebagian besar kasus makrosefali disebabkan karena hidrosefalus, yaitu kepala besar karena cairan di dalam otaknya berlebihan. Bila dicurigai kelainan makrosefali harus pula dilakukan pemeriksaan penuinjang lainnya karena kita tidak bisa menduga kelainan struktur di dalam otaknya. Untuk mengetahui kelainan hidrosefalus dan ganguan lainnya dapat dilakukan pemeriksaan USG atau CT-scan.

Hidrosefalus adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak (cairan serebro spinal) atau akumulasi cairan serebrospinal dalam ventrikel serebral, ruang subarachnoid, atau ruang subdural. Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.

Penyebab Hidrosefalus terbagi dua, yakni Kongenital; disebapkan ganguan perkembangan janin dalam rahim misalnya Malformasi Arnold Chiari atau infeksi intrauterine. Gejala yang dapat ditemui pada seorang anak dengan hidrosefalus tergantung penyebabnya serta umur penderita. Bila penyebabnya kelainan bawaan, gejalanya didapati saat belum lahir atau pada masa bayi. Bila gejala timbul saat bayi di kandungan kadang-kadang sudah meninggal di kandungan.

Bila dilihat secara anatomis Hidrosefalus dibagi 2, yaitu hidrosefalus non-komunikans (tersumbat) dan hidrosefalus komunikans. Hidrosefalus non-komunikans disebabkan kelainan bawaan, tumor, dan infeksi.Kondisi itu terjadi karena ada penyumbatan di tempat tertentu di dalam otak, di jalan sempit yang dilalui cairan otak waktu mengalir keluar dari rongga ventrikel otak.

Hidrosefalus komunikans disebabkan kelainan bawaan atau didapat, misalnya setelah sakit radang selaput otak (meningitis) atau perdarahan di bawah selaput otak. kelainan yang terjadi adalah penyerapan cairan otak yang tak memadai di tempat penyerapannya (rongga subarahnoid). Produksi cairan otak yang berlebihan dapat disebabkan karena tumor, meski jarang. Beberapa infeksi di dalam kandungan juga dapat menyebabkan terjadinya hidrosefalus. Biasanya infeksi ini terjadi pada kehamilan muda sampai trimester kedua.

Manifestasi klinis hidrosefalus adalah lingkar kepala membesar, fontanel antrior menonjol. Vena pada kulit kepala dilatasi dan terlihat jelas pada saat bayi menangis. Terdapat bunyi creckedpot (tanda Macewen) disertai mata melihat kebawah, mudah terstimulasi, lemah dan kemampuan makan berkurang. Opisthotonus, dan spatik pada ekstremitas bawah. Pada bayi dengan malformasi mulut, bayi mengalami kesulitan menelan. Bunyi nafas keras (stridor), kesulitan bernafas, apnea (henti napas), tidak ada refleks muntah, sakit kepala, papil edema (pembengkakan persarafan mata), strabismus (juling), ataxia (gangguan keseimbangan), letargi (lemah), bingung, dan bicara inkoheren.

Pencegahan

Pertumbuhan otak anak adalah proses yang sangat penting proses penting lainnya adalah periode tercepat pertumbuhan otak terjadi pada trimester 3 hingga usia 3 tahun. Pada usia anak khususnya tiga tahun pertama, merupakan masa penting periode “Golden Age” karena perkembangan otak luar biasa. Karena proses perkembangan otak berlangsung sangat cepat selama masa tersebut. Kondisi ini juga termasuk periode rawan atau kritis karena hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Berat otak pada waktu lahir rata-rata 350 gram. Pada usia 1 tahun, volume otak 1.000 gram dan pada usia 2 tahun beratnya 1.200 gram. Sedangkan volume otak orang dewasa hanya 1400 gram pada pria dan 1.250 gram pada wanita. Proses petumbuhan dan perkembangan otak bayi dipengaruhi oleh faktor genetik, nutrisi dan juga lingkungan yang berupa stimulasi atau rangsangan.

Pencegahan sejak dini untuk menghindari terjadinya kelainan-kelainan gangguan lingkar kepala dan otak. Melakukan konseling sebelum menikah sejak merencanakan untuk punya anak sangat penting. Kontrol secara teratur ke dokter kandungan untuk mendeteksi adanya kelainan kehamilan sejak dini khususnya infeksi TORCH.

Beberapa nutri makanan diyakini meningkatkan perkembangan sistem saraf pusat di otak dan sirkulasi oksigen dan replikasi DNA seperti DHA dan AA , zat besi, taurin, kolin dan zinc. Sumber nutrisi yang utama berbagai kandungan tersebut banyak didapatkan di dalam ASI. Sehingga pemberian ASI tidak bisa disangkal lagi tidak bisa dikalahkan oleh pemberian susu formula yang manapun.

(Dr Widodo Judarwanto SpA adalah dokter spesialis anak dari RS Bunda Jakarta, Klinik Kesulitan Makan, Jl. Rawasari Selatan 50, Cempaka Putih, Jakarta Pusat)



Sumber :Kompasiana

Selasa, 31 Januari 2012

Makanan Terbaik untuk Ibu Menyusui

InfoSehat - Sebagai ibu baru, salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan untuk diri sendiri dan bayi adalah mengonsumsi makanan yang sehat. Ibu baru dapat secara teratur mengonsumsi makanan yang meningkatkan energi. Sehingga akan memberikan stamina yang dibutuhkan untuk menjadi ibu terbaik.

Mengonsumsi makanan yang kaya gizi pada interval yang teratur sepanjang hari dapat memaksimalkan energi sebagai ibu baru. Dan untuk ibu menyusui, penting untuk mengetahui bahwa kualitas ASI tetap hampir sama tidak peduli apa yang dipilih untuk dimakan.

Sehingga jika ibu menyusui tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dari diet sehari-hari, maka akan mengambil simpanan nutrisi dalam tubuh. Maka sebaiknya ibu menyusui memperhatikan keseimbangan asupan makanan sehari-hari untuk menunjang nutrisi yang dikeluarkan dalam bentuk ASI untuk bayi.

Berikut 12 makanan yang baik untuk dikonsumsi ibu menyusui seperti dikutip dari WebMD, Jumat (27/1/2012) antara lain:

1. Ikan salmon

Ikan salmon, seperti ikan berlemak lainnya, sarat dengan jenis lemak yang disebut DHA. DHA sangat penting untuk perkembangan sistem saraf bayi. Semua ASI mengandung DHA, tetapi tingkat nutrisi penting ini lebih tinggi pada ASI yang mendapatkan DHA lebih dari diet sehari-hari ibu.

DHA dalam ikan salmon juga dapat memperbaiki suasana hati. Hasil studi menunjukkan bahwa, DHA memainkan peran dalam mencegah depresi pasca melahirkan. Pedoman FDA mengatakan ibu yang menyusui harus membatasi konsumsi ikan rendah merkuri sampai 12 ons per minggu. Salmon dianggap memiliki kadar merkuri rendah bila dibandingkan dengan jenis ikan lainnya.

2. Produk susu rendah lemak

Produk susu adalah bagian penting dari bahan makanan bagi ibu menyusui yang sehat. Selain menyediakan protein, vitamin B, dan vitamin D, produk susu adalah salah satu sumber kalsium terbaik. Jika menyusui, susu yang sarat dengan kalsium dapat membantu perkembangan tulang bayi.

Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menyertakan setidaknya 3 cangkir susu setiap hari sebagai bagian dari diet.

3.Daging sapi tanpa lemak

Bila sedang mencari makanan untuk meningkatkan energi sebagai ibu baru, maka sebaiknya mencari makanan yang kaya zat besi, seperti daging sapi tanpa lemak. Kekurangan zat besi dapat menguras energi. Juga, ketika menyusui, maka perlu makan protein tambahan dan vitamin B12. Daging sapi tanpa lemak merupakan sumber yang sangat baik untuk kedua nutrisi tersebut.

4. Kacang-kacangan

Kacang-kacangan, terutama yang berwarna gelap seperti kacang hitam dan kacang ginjal, adalah makanan yang baik untuk ibu menyusui. Bukan saja makanan tersebut kaya akan zat besi, tetapi mereka juga merupakan sumber protein nabati yang berkualitas.

5. Bluberi

Ibu menyusui harus yakin untuk mendapatkan dua atau lebih porsi buah atau jus setiap hari. Bluberi yang kaya antioksidan adalah pilihan yang sangat baik untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi ibu menyusui.

Buah ini mengandung vitamin dan mineral dan memberikan dosis karbohidrat yang sehat untuk menjaga tingkat energi tetap tinggi.

6. Beras merah

Jika mencoba untuk menurunkan berat badan bayi, ibu mungkin tergoda untuk secara drastis mengurangi konsumsi karbohidrat. Tetapi menurunkan berat badan terlalu cepat dapat menyebabkan ASI lebih sedikit dan membuat ibu merasa lemah dan lesu.

Lebih baik untuk menggabungkan makanan sehat, seperti gandum dan beras merah dalam diet untuk menjaga tingkat energi. Beras merah juga menyediakan tubuh kalori yang memadai untuk memproduksi ASI dengan kualitas terbaik.

7. Jeruk

Jeruk adalah makanan terbaik untuk meningkatkan energi untuk ibu menyusui. Karena ibu menyusui memerlukan vitamin C bahkan lebih banyak daripada wanita hamil. Jeruk adalah makanan yang baik untuk ibu menyusui.

8. Telur

Kuning telur adalah salah satu dari beberapa sumber alami vitamin D. Vitamin D merupakan nutrisi penting untuk menjaga tulang kuat dan membantu pertumbuhan tulang bayi. Selain itu, telur juga serbaguna untuk memenuhi kebutuhan protein harian.

9. Roti gandum

Asam folat sangat penting untuk perkembangan bayi pada tahap awal kehamilan. Asam folat adalah nutrisi penting dalam ASI yang dibutuhkan untuk kesehatan yang baik bagi bayi. Roti gandum dan pasta yang diperkaya dengan folat sangat baik untuk ibu menyusui. Roti gandum juga memberikan dosis yang sehat dari serat dan zat besi.

10. Sayuran berdaun hijau

Sayuran berdaun hijau kaya dengan vitamin A, sehingga bayi juga perlu mendapatkannya dari ASI. Sayuran berdaun hijau juga merupakan sumbe kalsium,vitamin C, dan zat besi. Sayuran berdaun hijau juga mengandung antioksidan dan rendah kalori.

11. Sereal gandum

Salah satu makanan terbaik untuk meningkatkan energi untuk ibu baru di pagi hari adalah sarapan sehat dengan sereal gandum. Banyak sereal yang tersedia dan telah diperkaya dengan vitamin dan nutrisi esensial untuk membantu memenuhi kebutuhan harian.

12. Air

Ibu baru yang sedang menyusui sangat berisiko mengalami dehidrasi. Untuk menjaga tingkat energi dan produksi ASI, pastikan untuk mendapatkan asupan cairan yang cukup. Namun, hindari minuman yang mengandung kafein. Karena kafein dapat terkandung dalam ASI dan dapat menyebabkan bayi menjadi mudah marah dan sulit tidur.

sumber : detikhealth

ORDER ETTA GOAT MILK

Minggu, 29 Januari 2012

Tips Penyimpanan ASI

InfoSehat - Masa indah 3 bulan cuti hamil sudah lewat dan Mama harus kembali bekerja? Bukan berarti Mama berhenti memberikan ASI untuk si kecil lho. Dengan berbagai teknologi saat ini, sangatlah memungkinkan bila Mama masih ingin memberikan ASI untuk si kecil. Hanya dengan bantuan breast pump, kulkas atau freezer, ataupun cooler pack, si kecil masih bisa menikmati ASI Mama.


Saat Mama mulai kembali bekerja, Mama bisa memompa ASI secara teratur di kantor. Bila perlu, informasikan hal ini kepada bos Mama atau bagian personalia kantor, siapa tahu mereka bisa membantu Mama mencari tempat yang tepat agar Mama bisa memompa ASI secara nyaman dan tidak terganggu.
Agar Mama bisa memompa ASI dengan nyaman di kantor, Mama membutuhkan:
  1. Breast pump. Mama bisa memilih breast pump yang menggunakan listrik/baterai, sehingga proses pemompaan berjalan lebih cepat, atau  pump manual, sesuaikan dengan apa yang nyaman bagi Mama
  2. Botol atau kantung untuk menyimpan ASI yang telah dipompa
  3. Cooler pack untuk menjaga ASI tetap dingin sampai Mama tiba di rumah. Bila kantor Mama memiliki kulkas atau freezer yang bisa Mama gunakan juga menguntungkan
  4. Breast Pad untuk mencegah ‘kecelakaan’ kecil saat ASI keluar tanpa dipompa
  5. Lokasi untuk memompa ASI. Lokasi sebaiknya nyaman, bersih, dan privat, sehingga Mama tidak terganggu saat memompa ASI
Idealnya ASI dipompa setiap 2-3 jam sekali, sehingga ASI yang Mama pompa cukup untuk memenuhi kebutuhan si kecil selama Mama bekerja dan produksi ASI Mama masih terjaga sehingga pada malam hari dan akhir pekan Mama masih bisa menyusui si kecil secara langsung. Selain itu, sebaiknya Mama memompa ASI pada saat dan tempat yang sama setiap hari. Tetap rileks dan hindari stress atau kelelahan agar produksi ASI tetap banyak. Jangan lupa juga untuk mengkonsumsi makanan sehat dan minum banyak air putih selama bekerja.

Setelah dipompa, ASI sebaiknya disimpan di botol yang terbuat dari plastik atau kaca. Jangan lupa untuk menuliskan data dan jam waktu pemompaan di wadah penyimpan ASI. Jangan pernah mencampurkan ASI segar dengan ASI yang sudah dibekukan.

Cairkan ASI yang telah dibekukan dengan cara meletakkan botol atau kantung penyimpan ASI dalam air panas sampai ASI mencair. Jangan pernah mencairkan atau memanaskan ASI yang telah dibekukan dengan microwave, karena microwave bisa membunuh gizi yang terdapat pada ASI. Jadi sebaiknya bila setelah disimpan lemak ASI mengambang di permukaan, aduk saja ASI tersebut untuk melarutkan lemaknya lagi.

ASI yang dibekukan di freezer bisa bertahan sampai 3-6 bulan. Bila Mama telah mencairkan ASI beku, Mama bisa menyimpannya lagi di kulkas selama 24 jam, tapi bila disimpan dalam suhu ruangan ASI hanya bisa bertahan selama 1 jam. Bila ASI yang dibekukan telah dicairkan, jangan dibekukan lagi ya. Selamat mencoba!

Sumber: www.babycenter.com

Rabu, 25 Januari 2012

Cara Gampang Merawat Kulit Bayi dan Balita

InfoSehat - Berbagai gangguan kulit pada bayi dan balita seperti biang keringat, eksim popok, dan eksim susu sebenarnya bisa diatasi bila orang tua rajin menjaga kesehatan kulit. Caranya dengan rajin mengganti popok, memilih bahan pakaian yang lembut, serta menjaga udara kamar agar tetap sejuk dan nyaman. 


Berbeda dengan kulit dewasa yang tebal dan mantap, kulit bayi dan balita relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Karena itu kulit anak lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi. Secara struktural kulit bayi dan balita belum berkembang dan berfungsi optimal sehingga diperlukan perawatan khusus. 

Perawatan yang lebih menekankan pada pemeliharaan kulit ketimbang dekorasi ini diharapkan bisa meningkatkan fungsi utama kulit sebagai pelindung dari pengaruh luar tubuh. 

Perawatan kulit bayi dan balita bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari. Misalnya dengan memandikan secara teratur, membersihkan rambut, dan mengganti popok atau baju pada saat tepat. Mandi misalnya, diwajibkan dua kali sehari, pagi dan sore. Dalam memandikan, perhatikan hal-hal berikut: suhu air disesuaikan dengan umur anak, gunakan sabun bayi yang lunak, gunakan sampo bayi untuk membersihkan rambut, keringkan badan dengan handuk sendiri sampai lipatan kulit, dan berikan bedak dengan sapuan tipis. 

Soal pakaian bayi sebaiknya dari bahan lembut dan selalu bersih. Dengan memperhatikan pakaian yang digunakan berarti kita telah berupaya menghindari timbulnya gangguan. Pada sebagian anak penggunaan pakaian berbahan nilon atau wol bisa menimbulkan gatal-gatal di seluruh tubuh. Bahan katun yang gampang menyerap keringat haruslah menjadi pilihan pertama bagi anak berkulit peka. 

Pemeliharaan kulit itu bisa dilakukan dengan menggunakan bermacam kosmetika bayi yang beredar saat ini. Sebagian berfungsi untuk membersihkan kulit misalnya sabun dan sampo; melembapkan dan pelindung terhadap sinar matahari seperti losion, krim, dan minyak khusus. 

Penggunaan kosmetika berupa sabun, sampo, losion, minyak khusus untuk bayi perlu dipilih yang tepat dan disesuaikan dengan kondisi kulit bayi. Misalnya dengan mencermati zat warna dan bahan-bahan pengawet yang mungkin saja tidak sesuai dengan kulit bayi. Juga apakah pH-nya sesuai dengan kulit bayi. 

Memilih dan menggunakan kosmetika pada bayi dan balita secara benar dan tidak berlebihan merupakan langkah utama menjaga kesehatan kulit. Oleh karena itu, banyaknya informasi tentang produk kosmetika bayi dan balita dewasa ini harus lebih dicermati oleh orang tua. 

Eksim popok
 
Selain perawatan kulit rutin, para orang tua perlu memperhatikan perawatan kulit yang berhubungan dengan beberapa penyakit kulit tertentu. Misalnya saja eksim popok, yaitu kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok. Penyakit kulit pada bayi dan balita ini banyak dikeluhkan orang tua. 

Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, di antara kedua pantat, dan dapat menimpa di bagian kulit lain. Bagian tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulitnya hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri serta senyawa yang dapat mengiritasinya. 

Eksim popok dapat dicegah dengan cara mengganti popok sesering mungkin setiap kali popok basah. Sebaiknya kain popok terbuat dari bahan lembut dan cara pemakaiannya tidak terlalu ketat agar kulit tidak tergesek. Penggunaan celana plastik sedapat mungkin dihindari. 

Eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasa ada dalam faeces bayi, yang menimbulkan peradangan di sekitar anus. Bercak begini umumnya terjadi bila si bayi diare. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan mengganti popok setiap kali terasa basah. Usap semua bekas faeces dari badannya, balur dengan krim pelindung. Periksakan ke dokter bila bercaknya belum hilang dalam 10 hari. 

Popok yang basah bisa pula menimbulkan bercak yang tidak berpusat di sekitar anus. Ini terjadi karena reaksi antara zat di dalam ompol dengan zat di faeces dan menghasilkan amonia yang merangsang kulit bayi. Penanggulangannya bisa dengan mengganti popok sesering mungkin. Sebelum pemakaian popok usapkan krim pelindung kulit. Bila dalam 10 hari belum ada kemajuan, atau malah makin memburuk, ada kemungkinan kulitnya sudah terinfeksi candida - jamur yang biasa muncul di usus. Dalam hal itu periksakan ke dokter, yang mungkin memberi krim khusus dan juga obat khusus untuk melawan infeksinya. 

Soal pilihan penggunaan popok kain atau popok sekali pakai tak jadi soal. Dari segi kesehatan keduanya sama-sama sehat. Yang penting jangan sampai terlambat mengganti. Untuk popok kain tentu harus segera diganti bila terlihat basah. Tetapi untuk popok sekali pakai frekuensi penggantiannya didasarkan atas daya tampungnya. Misalnya dengan melihat apakah popok sekali pakai itu sudah tampak menggelembung atau menggantung. Jika sudah, maka harus segera diganti. Setiap kali akan mengganti popok, bagian pantat bayi dan sekitarnya harus dibasahi. Kemudian bagian tadi dikeringkan, baru diberi bedak. 

Sering dianjurkan pemakaian baby oil pada bagian ini, untuk menjaga air seni tidak mudah meresap ke dalam kulit. Tentu saja baby oil ini harus diteteskan lebih dulu pada segumpal kapas. 

Pada bayi perempuan, membersihkannya harus dari bagian atas ke arah anus, dengan menggunakan kapas basah. Sedangkan pada bayi laki-laki, dengan menarik kulup perlahan-lahan sehingga lubang kencingnya tampak, baru kemudian dibersihkan dengan kapas basah. 

Keluhan gangguan kulit lain pada anak yang banyak ditemui adalah dermatitis atopik (eksim susu). Penting dicatat pula, bahwa dari berbagai penelitian terbukti bukan air susu ibu (ASI) penyebabnya. Bahkan, ASI sendiri mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi. Namun, nama eksim susu telah telanjur melekat sehingga tetap dipertahankan. Sementara istilah kedokterannya adalah dermatitis atopik (eksim di tempat yang tidak biasanya). 

Penyakit eksim susu biasanya sangat gatal. Tampak dari seringnya bayi menggaruk, gelisah, serta rewel. Kulit terlihat kemerahan dan terdapat gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman. Eksim ini terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi banyak ditemukan di daerah pipi, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut. Di luar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik. 

Penyebab penyakit ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam tubuh, yaitu faktor keturunan, maupun lingkungan, misalnya debu, udara panas, dan kelembapan. Karena itu perawatan kulit yang paling penting adalah mencegah kulit agar jangan kering. 

Biang keringat
 
Biang keringat juga merupakan keluhan umum yang sering ditemukan pada bayi dan balita. Biang keringat atau sering disebut juga keringat buntet timbul di daerah dahi, leher, dan bagian tubuh yang tertutup pakaian. Gejala utama adalah gatal, dapat disertai kulit kemerahan dan gelembung berair kecil-kecil. Penyakit ini biasa kambuh berulang, terutama bila udara panas dan berkeringat, sehingga menimbulkan masalah pada bayi, balita, maupun orang tua. Penyakit ini dapat dicegah dengan perawatan rutin, misalnya mandi dengan teratur dan membasuh anak yang berkeringat dengan lap basah sebelum dikeringkan dan diberi bedak. 

Seringkali terjadi bintik-bintik merah (ruam) pada leher dan ketiak bayi. Keadaan ini disebabkan oleh peradangan kulit pada bagian tersebut. Bisa disebabkan karena bagian ini tidak kering betul ketika dilap dengan handuk sehabis memandikannya. Apalagi jika si bayi gemuk, sehingga leher dan ketiaknya berlipat-lipat. 

Ruangan dengan ventilasi udara cukup sangat dianjurkan, terutama di kota-kota besar yang panas dan pengap. Usahakan kamar balita diberi jendela lebar sehingga pertukaran udara dari luar ke dalam ruangan lancar. Dari kasus-kasus biang keringat pada bayi dan balita, hampir 70% nya bisa diatasi bila pergerakan udara dalam ruangan lancar sehingga kamar terasa sejuk. 

Lepas dari soal kesehatan, perawatan kulit pada bayi dan balita sebenarnya mengekspresikan rasa cinta orang tua kepada buah hatinya. Sentuhan mereka akan sangat mempengaruhi perkembangan fisik dan mental seorang anak. (G. Sujayanto)

Sumber: Intisari, Januari 2001

Iritasi pada Kulit Bayi, Apa dan Bagaimana Mengatasinya

InfoSehat - Iritasi pada kulit bayi sering terjadi, beberapa keadaan dapat menjadi pemicu terjadinya iritasi, seperti:

* Pemakaian popok sintesis atau celana berlapis plastik yang lama tidak diganti, sering menimbulkan iritasi langsung pada kulit akibat tertimbunnya urin atau kotoran yang mengandung amonia.
Tertutupnya daerah popok meningkatkan suhu maupun kelembaban di daerah lipatan bokong makin memudahkan penyerapan bahan-bahan kimia iritan tersebut. Bila berlangsung berulang-ulang pelindung kulit akan rusak, sehingga memudahkan berkembangbiaknya jamur, seperti Candida albicans.

* Pada daerah-daerah lipatan terutama pada bayi gemuk seperti daerah leher, lipat paha, lipat siku, bila terjadi penumpukan keringat yang terlalu lama maka akan mengiritasi kulit bayi. Peradangan berulang yang terjadi juga akan diperburuk dengan berkembangbiaknya jamur seperti Candida albicans.

* Bayi dengan riwayat keluarga alergi akan lebih sering dijumpai keluhan iritasi, seperti sisik halus di daerah kulit kepala akibat pemakaian produk kosmetika sampo ber-pH tinggi atau hair-lotion yang terlalu wangi. Dapat pula dijumpai hal serupa di daerah dada, punggung, perut akibat pemakaian minyak penghangat seperti minyak telon atau kayu putih yang digunakan terus-menerus di iklim panas.

* Kekeringan kulit bayi akibat pemakaian berulang sabun mandi yang mengandung antiseptik. Peradangan kronis akibat kontak bahan iritan lemah akan mempengaruhi keseimbangan flora normal kulit, dengan akibat berkurangnya daya pertahanan alamiah kulit.

* Bayi baru lahir yang mengkonsumsi susu sapi formula dengan kadar pH tinggi terkadang dijumpai kemerahan di daerah sekitar dubur.

Bagaimana mengobatinya ?

1. Terpenting adalah pencegahannya, karena bila dicermati semua faktor penyebab iritasi pada kulit bayi dapat dicegah. Umumnya kelainan kulit baru timbul bila telah terjadi paparan yang berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama.

2. Hindari sementara pemakaian popok sekali pakai atau celana berlapis plastik selama peradangan. Pakailah popok kain tipis lembut yang bahannya menyerap keringat. Cuci daerah bokong dan sekitarnya setiap bayi buang air kecil atau buang air besar dengan sabun lembut untuk bayi, keringkan dengan handuk lembut ditepuk-tepuk pelan dan jangan digosok kasar. Hindari bedak saat kulit meradang.

3. Daerah lipatan yang meradang sering dikompres dengan waslap handuk yang dibasahi air, hindari pemakaian bedak untuk sementara waktu. Daerah lipatan sering dibuka dan diangin-anginkan. Bila berkeringat segera seka perlahan dengan waslap handuk yang dibasahi air, jangan digosok lalu dikeringkan dengan handuk. Pakailah baju longgar dari bahan katun yang tipis dan mudah menyerap keringat.

4. Bila dijumpai kulit bersisik dapat diberi krim pelembab khusus bayi setelah mandi. Jangan mandi dengan air terlalu panas berlama-lama. Pakailah sabun dan sampo khusus bayi. Untuk sementara waktu hindari penggunaan bedak atau berbagai produk kosmetik untuk bayi.

5. Jangan oleskan obat salep, krim atau minyak apapun di daerah yang meradang tanpa konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

6. Yang perlu diperhatikan dalah pencegahan. Iritasi pada kulit bayi lebih sering disebabkan oleh bahan iritan yang lemah seperti keringat, urin, feses, produk perawatan kulit yang salah penggunaannya, deterjen, atau cairan anriseptik dan mungkin kitapun punya andil untuk memaparkannya. Kadang-kadang timbulnya iritasi ditunjang oleh kondisi yang cocok untuk timbulnya peradangan seperti faktor kelembaban, panas, tertutup ataupun gesekan.

Sumber : balita-anda.com

Selasa, 24 Januari 2012

Cermat Merawat Pusar bayi

InfoSehat - Pusar, atau dalam bahasa sehari-hari biasa disebut udel, adalah bagian tubuh berbentuk seperti kancing yang ‘menempel’ di perut kita. Pada masa janin, pusar berbentuk seperti saluran yang menyambungkan bayi dengan plasenta, berfungsi sebagai saluran penyuplai makanan, sekaligus sebagai jalan pembuangan sisa-sisa metabolisme dan juga sistem ekskresi janin.

Pada saat bayi lahir, dokter biasanya menyisakan beberapa sentimeter bagian dari pusar bayi yang nanti akan lepas dengan sendirinya. Masyarakat kita mengenal dengan istilah ‘puput pusar’, yang biasanya terjadi sekitar 10 – 21 hari setelah bayi lahir.

Sebelum tali pusar lepas, bagian tubuh ini perlu mendapatkan perawatan ekstra cermat, karena jika terjadi infeksi pada pusar, infeksi tersebut dapat menyebar ke dalam tubuh bayi dengan cepat. Namun tak perlu takut merawat pusar bayi yang baru lahir. Yang penting hati-hati dan teliti.

Langkah-langkah perawatan pusar bayi adalah :


1. Bersihkan area pusar dengan bola kapas lembut yang telah dicelupkan air matang. Lakukan dengan lembut, tidak perlu menggosok atau mendorong pusar. Kemudian keringkan dengan handuk lembut.
2. Ganti pembalut pusar bayi dengan kain kasa baru. Tidak perlu panik melihat tetesan darah yang kemudian menghitam, terutama di minggu pertamanya. Pada saat ini, pusar bayi yang baru lahir biasanya masih tampak seperti luka.
3. Kenakan popok dengan cara melipat bagian atasnya menjauhi pusar untuk menghindari rembesan urin mengenai pusar.


Beberapa hal yang perlu diingat saat merawat pusar bayi, antara lain :
Jaga kebersihan area pusar dan sekitarnya, serta upayakan selalu dalam keadaan kering.
Gunakan kapas baru pada setiap basuhan.
Agar tali pusar lebih cepat lepas, gunakan kain kasa pada bagian pusar yang terus dibalut sehingga mendapat udara cukup.
Saat membersihkan, pastikan suhu kamar tidak terlalu dingin.
Agar praktis, kenakan popok dan atasan dari bahan kaos yang longgar.
Lakukan acara bersih-bersih ini 1-2 kali sehari.


Jika kulit di area sekitar pusar si kecil memerah dan panas seperti terbakar, segera kunjungi dokter. Bisa jadi ada infeksi yang disebabkan jamur atau al lain. Kalau penyebabnya memang benar-benar infeksi, biasanya akan diberi sedikit betadine.

(sumber : Ayahbunda)